https://www.indotheologyjournal.org/index.php/home/issue/feed Indonesian Journal of Theology 2022-07-15T21:30:23+00:00 Hans A. Harmakaputra editor@indotheologyjournal.org Open Journal Systems <p style="text-align: justify;">Indonesian Journal of Theology (<a href="http://u.lipi.go.id/1380233667">E-ISSN: 2339-0751</a>) adalah sebuah jurnal teologi yang dipublikasi oleh Asosiasi Teolog Indonesia. IJT digagas dengan tujuan memperkaya diskursus teologi antar teolog-teolog antar-denominasi dan antar-iman, terutama di konteks Indonesia. Selain itu, kami juga ingin berkontribusi kepada diskursus teologis yang lebih luas di kekristenan dunia saat ini, khususnya di konteks Asia, dengan mempublikasikan karya-karya dari penulis dari seluruh dunia. Kami menerima kontribusi dari sarjana-sarjana dalam bidang teologi, studi agama-agama, dan bidang-bidang terkait lainnya.</p> <p style="text-align: justify;">Anda dapat mengakses IJT dalam Bahasa Indonesia dan Inggris. Sila pilih bahasa yang diinginkan melalui menu di sebelah kanan.<br /><br /><em>To access the IJT in English, choose <strong>English</strong> at the <strong>Bahasa </strong>option on the right side. </em></p> <p style="text-align: justify;"><strong>AKREDITASI</strong></p> <p style="text-align: justify;">Indonesian Journal of Theology telah diakreditasi (SINTA 2) oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Republik Indonesia, sesuai Surat Keputusan nomor 164/E/KPT/2021.</p> https://www.indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/269 Untouchable Bodies, Resistance, and Liberation: A Comparative Theology of Divine Possessions 2022-06-11T15:24:48+00:00 Adrianus Yosia tartarus.in.my.dream@gmail.com <p>Sebuah resensi untuk buku Untouchable Bodies, Resistance, and Liberation: A Comparative Theology of Divine Possessions</p> 2022-07-15T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2022 Adrianus Yosia https://www.indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/230 All Things Beautiful: An Aesthetic Christology 2021-12-27T04:31:31+00:00 Monte Lee Rice monterice@gmail.com <p>Sebuah resensi untuk buku All Things Beautiful: An Aesthetic Christology</p> 2022-07-15T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2022 Monte Lee Rice https://www.indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/237 Membongkar Kebisuan Perempuan: Membongkar Kebisuan Perempuan: Kedudukan Perempuan dalam Alkitab Ditinjau dari Perspektif Feminis 2022-01-22T03:43:21+00:00 Asaria Lauwing Bara lauwingbaraasaria@gmail.com <p>Sebuah resensi buku untuk Membongkar Kebisuan Perempuan: Membongkar Kebisuan Perempuan: Kedudukan Perempuan dalam Alkitab Ditinjau dari Perspektif Feminis</p> 2022-07-15T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2022 Asaria Lauwing Bara https://www.indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/238 Dapur dan Allah 2022-03-05T12:16:06+00:00 Denni Pinontoan dpinontoan6@gmail.com <p>Artikel ini berfokus membahas mengenai dapur sebagai ruang dan tempat dalam praktik sosio-religius-kultural orang-orang Minahasa. Satu hal yang identik dengan orang-orang Minahasa adalah kebiasaan pesta, di mana jamuan makan bersama merupakan salah satu bagian yang penting. Semua yang tersaji di meja makan bermula dari dapur. Oleh sebab itu, dapur adalah sebuah tempat dan ruang yang terintegrasi dengan tatanan sosial. Tujuan dari artikel ini adalah untuk menunjukkan bahwa dapur tidak hanya sebatas tempat melakukan aktivitas memasak, namun juga berfungsi sebagai ruang untuk merefleksikan kehadiran Allah dalam kehidupan personal, keluarga dan komunitas. Dari rekonstruksi teologis terhadap maknanya, maka terungkap bahwa dapur adalah bagian penting dari upaya merawat relasi kekerabatan, komunitas dan juga keramahtamahan sebagai praksis dari penghayatan kehadiran Allah.</p> 2022-07-15T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2022 Denni Pinontoan https://www.indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/239 Mamasa-Kristen dan Kematian Anggota Keluarganya 2022-03-16T22:39:44+00:00 Pelita Hati Surbakti pelitahatisurbakti@gmail.com Rahyuni Daud Pori rahyunidaudpori@gmail.com Ekavian Sabaritno esabaritno@gmail.com <p>Kematian anggota keluarga seringkali meninggalkan duka yang mendalam. Karena itu, dalam berbagai kebudayaan telah tersedia mekanisme penghiburan sebagaimana yang juga ditemukan dalam <em>Aluk Toyolo</em>. Namun demikian, adakalanya mekanisme itu mendapat penentangan dalam kekristenan dengan alasan tidak sejalan dengan ajaran Alkitab. Gereja bahkan menetapkan sanksi bagi anggota jemaat yang tetap menjalankannya. Situasi ini tentu saja menjadi dilema bagi mereka yang hidup dalam dua tradisi, yaitu budaya leluhur dan kekristenan. Mamasa-Kristen yang dikenal dengan sejumlah ritus kematian merupakan salah satu komunitas yang mengalami dilema ini. Gereja Toraja Mamasa (GTM), melalui sejumlah keputusan dalam sidang sinode, pernah menetapkan sejumlah larangan bahkan sanksi yang dimaksud. Kenyataannya, beberapa ritus yang dilarang masih saja dilakukan secara terbuka. Kini, dilema itu tidak saja dialami oleh anggota jemaat, tetapi juga oleh gereja. Lalu apa yang bisa dilakukan untuk meminimalkan dilema tersebut? Tulisan ini mengusulkan sebuah dialog dalam ranah hermeneutika biblis yang dikenal dengan Hermeneutika Lintas-Tekstual. Dari dialog tersebut, ditemukanlah sejumlah titik temu antara konsep kematian dalam budaya leluhur Mamasa dengan konsep kematian dalam surat Paulus. Perbedaan di antara keduanya juga ada, namun perbedaan yang memperkaya juga tampak jelas. Melalui dialog ini, pemahaman terhadap teks 1 Tesalonika 4:14 tentang kematian justru dapat diperkaya melalui sejumlah ritus kematian dalam <em>Aluk Toyolo</em>.</p> 2022-07-15T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2022 Pelita Hati Surbakti, Rahyuni Daud Pori, Ekavian Sabaritno https://www.indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/247 Listen to the Earth, Listen to the Mother 2022-04-26T20:50:35+00:00 Agustina Samosir agustina.samosir@stftjakarta.ac.id Ejodia Kakunsi ejodia.kakunsi@stftjakarta.ac.id <p>Isu kerusakan lingkungan erat kaitannya dengan isu kekerasan terhadap perempuan. Perempuan dan alam sama-sama merupakan korban eksploitasi dan penindasan. Gerakan perempuan dalam memperjuangkan hak-hak hidupnya terkait erat dengan kelangsungan bumi, bahkan mereka melahirkan gerakan ekofeminis di mana tema besar pelestarian lingkungan dirangkul sebagai bagian dari perjuangan mereka. Lewat tulisan ini, kami hendak memperlihatkan bahwa gerakan perempuan di berbagai belahan bumi, termasuk masyarakat adat di Indonesia, terlahir dari kemampuan merespons alam dan kecintaan mereka kepada kehidupan. Gagasan ekofeminis Barat, Amerika Latin, India, bahkan Asia seperti Rosemary Radford Ruther, Elisabeth A. Johnson, Ivone Gebara, Aruna Gnanadason dan Sallie McFague juga termaktub dalam falsafah ibu pertiwi. Ibu pertiwi merupakan personifikasi bumi Indonesia yang menempatkan alam sebagai subjek sekaligus sumber kehidupan. Kemudian, kami akan memperkuat personifikasi ini dengan Ayub 12:7-10 yang mengatakan agar manusia mendengar dan belajar dari alam untuk mendapatkan hikmat. Konstruksi teologi ekofeminis ini pada gilirannya akan berkontribusi pada perlindungan alam.</p> 2022-07-15T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2022 Agustina Samosir, Ejodia Kakunsi https://www.indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/196 Membangkitkan Realitas Alternatif 2022-03-23T12:44:31+00:00 Nathaniel Hendradi hendradi.nathaniel@gmail.com <p>Para sarjana naratif modern, seperti Ninian Smart, Paul G. Hiebert, Charles Taylor, James W. Sire, dan James K.A. Smith, menegaskan sentralitas narasi dalam pembentukan identitas dan spiritualitas individu dan masyarakat. Kekuatan narasi hadir dalam dimensi <em>imajinal</em>, yang dimanifestasikan dalam kisah-kisah mitos. Para sarjana di atas mengacu pada pendekatan sosiologis/antropologis, yang sederhananya berorientasi pada disiplin ilmu humaniora. Dengan tetap mengapresiasi studi-studi tersebut, artikel ini bertujuan untuk memberikan kontribusi diskursif di sekitar subjek bahasan—kontribusi yang mempertimbangkan diskursus naratif dan mitos dari perspektif studi biblis, mengingat pentingnya memahami manusia sebagai makhluk yang kompleks dan utuh. Penulis berpegang pada sentralitas teks Kitab Suci untuk menuntun kehidupan dan iman umat Allah karena teks berisi narasi Allah: sebagai fondasi, memori, dan kerangka kerja mitis mereka. Menggunakan konsep “imajinasi profetik” Walter Brueggemann, artikel ini mengajukan metafora kitab suci sebagai sebuah model dalam menghadapi realitas kehidupan kontemporer yang dikelilingi oleh kontestasi-kontestasi naratif.</p> 2022-07-15T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2022 Nathaniel Hendradi https://www.indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/240 Dialektika Teologi dari Perspektif Herman Bavinck dengan Pemikiran Ekonomi Marxisme 2022-03-04T16:45:10+00:00 Rinto Pangaribuan ripang206@gmail.com <p>Posisi dari teori sosial Weberian menunjukkan korelasi kuat antara kapitalisme dengan Calvinisme. Oleh karena itu, ada pandangan bahwa teologi Reformed (Calvinis) secara prinsip berseberangan dengan ideologi Marxisme. Menggunakan metode perbandingan kepustakaan, penelitian ini meninjau ulang tesis Weberian yang demikian dengan meletakkan Calvinisme dan Marxisme dalam gerak dialektika. Pemikiran Herman Bavinck akan mewakili teologi dari perspektif Calvinisme karena pemikiran dan kehidupan politiknya mencerminkan penolakan terhadap Marxisme. Sementara itu, tulisan ini menyorot pemikiran Karl Marx tentang ekonomi karena kegiatan produksi merupakan sentral pemikirannya dalam berfilsafat atau membaca sejarah manusia. Hasil dari penelitian ini adalah secara teoretis, pemikiran Bavinck dan Marx merupakan kontras. Bavinck menitikberatkan metode berteologinya pada wahyu, sedangkan Marx bertumpu pada kondisi material kegiatan ekonomi dalam membangun pemikiran filsafatnya. Namun, walau memiliki perbedaan metodologis dan epistemologis, pemikiran Bavinck dan teori Marx memiliki titik sintesis dalam ranah praksis. Teologi Bavinck menyumbang orientasi bagi tindakan praksis Marx, sedangkan pemikiran Marx dapat menyumbang saran konkret bagi praktik teologi Bavinck. Oleh karena itu, resolusi atas kontradiksi kedua pemikiran ini bersifat kolaboratif-komplementer dalam ranah praksis.</p> 2022-07-15T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2022 Rinto Pangaribuan https://www.indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/251 Gereja Sebagai Shelter 2022-06-02T02:29:42+00:00 Alexander Hendra Dwi Asmara hendrasj83@gmail.com <p>Keterlibatan Gereja Katolik di Keuskupan Agung Semarang (KAS) dalam menanggapi krisis yang diakibatkan oleh pandemi COVID-19 di Indonesia, terutama di Yogyakarta, mengalami perubahan visi yang cukup penting seiring berjalannya waktu. Dalam periode pandemi tahap pertama (2020), gereja di KAS berfokus pada pelayanan kemanusiaan jangka pendek yang mencakup beberapa aktivitas, antara lain pembagian masker, pemberian bantuan makanan, dan pengorganisasian kegiatan karitatif lainnya. Memasuki paruh kedua pandemi COVID-19 (2021), gereja di KAS memperlihatkan keterlibatan yang semakin total dengan membuka tempat penampungan (<em>shelter</em>) isolasi mandiri bagi para penderita COVID-19. Gerakan shelter ini menyimbolkan solidaritas Gereja KAS yang mendalam bagi para korban. Artikel ini hendak memperlihatkan bahwa <em>shelter</em> menjadi model baru bagi solidaritas gereja di masa pandemi. Metode pengumpulan data ditempuh melalui wawancara dengan beberapa narasumber utama yang didukung dengan informasi-informasi penting lainnya dari internet dan media massa.</p> 2022-07-15T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2022 Alexander Hendra Dwi Asmara